Perbandingan Otak Koruptor dan Otak Reptil

Masih pada koran Republika, salah satu artikel pada sebuah rubrik kabar DIY menarik perhatian saya. Artikel tersebut ditulis oleh Nurul Hidayah SPsi MSi Psi, Ketua Program Studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan. Tulisannya begitu ilmiah dan sangat menyindir, tetapi penulis tidak langsung mengatakan koruptor itu buruk! Koruptor itu biadab! Namun, ia membandingkannya dengan cara bekerja otak reptil. Sungguh cara yang sangat menyakitkan bagi koruptor, huahauhaua 👿

Mau tau bagaimana artikelnya? Silakan simak di bawah ini.

Pemberitaan kasus korupsi tiap hari selalu menghiasi media massa, sejak dari korupsi kelas teri hingga kelas kakap. Berkaitan dengan usaha pemberantasan korupsi yang melibatkan lembaga penegak hukum, masih belum lekang dari ingatan masyarakat Indonesia mengenai kasus perseteruan KPK dengan Polri dan Kejaksaan Agung yang populer dengan istilah ‘cicak melawan buaya’.

Terlepas dari kontroversi penggunaan istilah tersebut. Menurut hemat penulis istilah cicak, tokek, buaya, kadal, komodo dan sejenisnya yang nota bene adalah hewan reptil sebetulnya lebih tepat ditujukan kepada koruptor atau pelaku korupsi, tidak peduli koruptor internal maupun eksternal lembaga penegak hukum.

Siapapun dia pantas ‘menyandang’ gelar reptilian apabila dia terbukti koruptor. Mengapa demikian? Secara jasmaniah koruptor adalah manusia biasa, namun apabila dikaji lebih jauh, ada organ tubuhnya yang masih mendominasi sifat reptil yaitu bagian otak sang koruptor. Bagaimana kaitan antara korupsi dengan otak reptil? Istilah otak reptil di sini tentunya bukan menunjukan pada otak milik hewan reptil, melainkan betul-betul merupakan salah satu bagian otak manusia.

Berdasarkan anatomi dan fungsinya, otak manusia dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Ada pembagian berdasarkan belahan otak (hemisfer) kanan dan kiri. Ada pula pembagian berdasarkan lobus-lobusnya atau bongkahannya sehingga dibagi menjadi lobus frontal, lobus oksipital, lobus temporal dan lobus parietal.

Selain itu ada pula yang membaginya menjadi otak depan, otak tengah dan otak belakang. Adapun Paul McLean dari National Institute of Mental Health Amerika Serikat mencoba menjelaskan tentang otak 3-in-1. Menurut Paul manusia dikaruniai otak paripurna yang meliputi otak reptil, otak mamalia tua dan otak mamalia baru (neokorteks).

Otak reptil terletak di batang otak, memiliki fungsi sensoris motorik dan mempertahankan kelangsungan hidup (makan, tempat tinggal dan reproduksi). Otak ini membuat kita dapat memiliki rutinitas dan membentuk kebiasaan, tetapi juga sangat menyulitkan untuk berubah, apalagi bila kebiasaan yang dimiliki berupa kebiasaan buruk. Respon yang dinampakkan saat menghadapi bahaya adalah respon lawan atau lari, atau yang sering diistilahkan dengan fight or flight.

Selanjutnya otak mamalia tua terletak di bagian sistem limbik. Otak ini memproses perasaan dan emosi, memori, bioritmik (denyut jantung, gairah seks, lapar, tidur, dan tekanan darah) serta mengatur kekebalan tubuh. Bagian otak ini membuat manusia bisa merasakan kelembutan serta memiliki sifat ingin memelihara atau merawat sesuatu yang kita cintai.

Adapun neokorteks terletak di bagian kulit otak yang memproses berpikir intelek, penalaran, analisis, logika, kreativitas, bahasa, intuisi dan spiritualitas yang seharusnya kita gunakan untuk mengarahkan kecenderungan kedua otak lainnya.

Di antara ketiga otak tadi, diharapkan neokorteks dapat menjadi penuntun kedua otak lainnya agar seluruhnya berjalan dengan harmonis. Dengan neokorteksnya ini manusia mampu menggunakan fungsi-fungsi luhurnya untuk mengelola alam yang diamanatkan oleh Tuhan kepadanya, sebuah amanat yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat.

Pada koruptor, ketiga bagian otak kurang berfungsi secara harmonis karena justru lebih didominasi oleh otak reptilnya. Sifat utama koruptor adalah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan norma-norma yang ada, baik norma agama maupun norma hukum. Hal ini sesuai dengan sifat otak reptil yang cenderung mempertahankan kelangsungan hidup (makan, tempat tinggal dan reproduksi) secara membabi buta karena tidak diimbangi aspek spiritualitas yang dimiliki oleh bagian neokorteks.

Apabila sang koruptor menghadapi bahaya berupa terendusnya kejahatan yang dilakukan oleh lembaga penegak hukum, ia akan memberi respon fight or flight. Respon fight dapat berupa membela diri sekuat tenaga agar tidak terjerat hukuman, baik dengan menyewa sejumlah pengacara maupun melakukan suap pada oknum yang bersedia memuluskan rencananya.

Sifat “pendukung” lainnya adalah ketidakjujuran yang tentunya melanggar norma agama dan norma sosial. Otak reptil yang dominan membuat seorang koruptor sulit untuk melepaskan kebiasaan yang dimiliki berupa kebiasaan buruk berbohong.

Alhasil, meskipu secara fisik seorang koruptor berwujud manusia, tetapi otaknya masih berwujud otak reptil yang primitif. Sifat dan perilaku koruptor ini sudah diprediksi oleh Allah dalam ayat Al-Qur’an yang artinya: “Seburuk-buruk makhluk melata di sisi Allah ialah mereka (manusia) yang tuli dan bisu, yang tidak menggunakan akalnya.” (QS, Al-Anfal 8:22).

Tanggapan Saya

Untuk paragraf tiga dari akhir artikel, saya mengajukan kritik yaitu tidak hanya koruptor yang melakukan respon fight or flight, tetapi juga manusia yang lain. Tentu fight harus dilakukan kalau orang tidak bersalah, dan flight harus dilakukan ketika, misalnya, difitnah mencuri lalu dikejar-kejar masyarakat.

Soalnya, pada intinya manusia juga memiliki otak reptil. Namun, pada koruptor saya setuju bahwa otak reptilnya lebih dominan dibandingkan dengan yang lain karena mereka tidak bisa mengendalikan nafsunya ❗

Sekian.. hehehe menarik kan? Saya saja baru tau ternyata manusia punya otak reptil..

Tags: , , , , , , , ,

AUTHOR

# Mulutku seperti brankas. Tidak akan terbuka sampai Anda minta untuk membukanya. Semua orang butuh tempat untuk bercerita. Ceritakan pada saya. Pasti akan mendapatkan balasan dari saya apabila bercerita lewat aprillins at gmail.com. Saya tidak akan menanggapi dengan serius, tapi Anda akan mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Belum ada tanggapan untuk “Perbandingan Otak Koruptor dan Otak Reptil”

Silakan Beri Komentar