Mau Tidak Mau Membahas Pernikahan

Tulisan ini dibuat pada pukul 00:31 WIB. Tahu kan ini adalah jam atau waktu produktif bagi sebagian orang? Ya sangat produktif karena banyak percikan pikiran yang menggelitik di otak. Baru-baru ini saya memikirkan tentang pernikahan, mau tidak mau. Sebenarnya tidak mau, tapi bagaimana pun juga kepikiran di usia saya yang sebentar lagi 28 ini.

Biaya, Keribetan, Pikiran, dan Waktu

Ketika kata “pernikahan” disebut hal yang ada dalam pikiran saya yaitu biaya, keribetan, pikiran, dan waktu. Pernikahan membutuhkan biaya, apalagi mengundang banyak orang. Iya, itu satu masalah penting kalau budget minim buat nikah. Biaya tersebut terdiri atas biaya katering, baju nikah, transport, dekorasi, tempat pernikahan, undangan, seserahan, cincin kawin, band kalau perlu, atau pre-wedding photoDamn, that’s a lot of fucking money will be required for that. Sementara itu, pada saat artikel ini ditulis saya belum bekerja secara formal atau bekerja pada sebuah perusahaan karena baru saja tamat studi S2 program manajemen salah satu universitas terkemuka di Indonesia (lagak lo..). Ya, memalukan buat laki-laki jalan 28 tahun tidak punya pekerjaan. Namun, bagi saya itu bukan masalah bagi saya karena saya punya rencana hidup saya sendiri.

Keribetan, ribet banget kalo nurutin budaya yang ada di Indonesia ini harus nyiapin segala tetek bengek, ga cukup dengan uang segalanya bisa selesai. Saya itu orangnya sangat praktis, ga ribet, sederhana, makan yang itu-itu aja bisa, bisa nerima hampir semua genre musik, dan di rumah seharian aja bisa asal ada laptop dan banyak ebook menarik. Yes, I am an introverted guy. Itulah kenapa saya ga suka ribet ngurus ini itu untuk hal yang sebentar yaitu menikah. Sepengetahuan saya, di agama saya, sahnya pernikahan itu ditentukan pas ijab qabul dan tentu dengan berbagai syaratnya. Saya ingin cepat saja, kalau bisa hari ini persiapan untuk ijab qabul, besoknya ijab qabul, besoknya lagi saya dan istri sudah sibuk dengan urusan masing-masing yang produktif, entah itu bekerja, baca buku, ngurus urusan penting, dan lain-lain.

Pikiran, sebagai seorang introvert saya ga suka pikiran saya dipenuhi dengan ocehan-ocehan, kebisingan yang menurut saya tidak perlu, dan tidak menyenangkan. Pernah satu ketika saya sangat merasa bahagia dan sangat fokus setelah seharian saya nonton film di bioskop sendirian, makan enak sendirian, pijit sendirian, dan melakukan hal-hal lain serba sendirian. Setelahnya saya sangat fokus. Berbeda halnya ketika saya habis menghadiri acara berbuka puasa bersama, setelahnya saya merasa capek dan blank. Seneng ya seneng cuma ya saya harus menahan serangan kebisingan saja. Nah, hubungannya sama topik nikah di sini apa dong? Pasti di sini saya harus berkomunikasi dengan berbagai macam orang dan membicarakan hal-hal tertentu yang terkait dengan pernikahan. Inilah yang saya perkirakan akan bikin saya blank dan pasti bakal kacau kalau saya ga sabar-sabar nahan emosi.

Waktu, saya orangnya sangat precise soal waktu. Saya less tolerance terhadap deadline yang telah saya rencanakan dan perkirakan. Misalnya, habis ijab qabul biasanya ada tuh ceramah dari kiai atau ustadz, di situ saya rencanakan antara 10-15 menit ceramah dan setelahnya ada acara foto 15 menit tetapi ternyata ceramahnya 20 menit sehingga bisa mengundur waktu keseluruhan 5 menit. Itu bikin saya gelisah banget dan bisa bad mood dalam sekejap dan bakal terlihat dari muka saya yang bete. Jadi istilahnya menurut saya paling tepat adalah precisely ordered in time. Susunan gak boleh loncat-loncat dan waktunya harus sesuai dengan porsinya. Pengecualian yaitu ketika saya sudah punya rencana untuk meloncat-loncat dari event satu ke event lainnya.

Mending Ga Nikah Aja?

Bukannya saya ga mau nikah, tapi saya ga mau ribet. Saya hanya mau ribet kalau itu bisa membangun hubungan saya dengan istri saya nanti berlangsung harmonis. Faktanya keharmonisan itu dibangun bukan saat proses menuju status pernikahan yang sah, tetapi saat mengelola kehidupan berumahtangga pasca pernikahan. Menurut saya sih gitu, ga tau menurut elu. Kemarin menikah, acara ribet, dua hari lagi bercerai juga bisa kok.

Setiap orang memiliki value yang berbeda-beda. Mungkin bagi orang yang menilai value proses pernikahan dan adatnya itu sangat besar akan mengkritik saya sebagai orang yang ga tau adat. Bagi mereka yang mengenyam value seperti itu ya iya. Tapi saya punya hierarki value sendiri, empat yang utama bagi saya yaitu time, love, success, freedom, personal development. Lihat di situ ga ada yang namanya socializing, tapi bukan berarti saya membenci bersosialisasi. Itu lihat ada love ini salah satu bentuk sosialisasi saya, tapi hanya untuk sekelompok orang terdekat saja. Oleh karenanya, jarang sekali saya mendengar orang yang tidak memiliki chemistry dengan saya.

Okelah segitu aja curhatnya, siapa tau bisa membantu orang lain.

Tags:

AUTHOR

# Mulutku seperti brankas. Tidak akan terbuka sampai Anda minta untuk membukanya. Semua orang butuh tempat untuk bercerita. Ceritakan pada saya. Pasti akan mendapatkan balasan dari saya apabila bercerita lewat aprillins at gmail.com. Saya tidak akan menanggapi dengan serius, tapi Anda akan mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Belum ada tanggapan untuk “Mau Tidak Mau Membahas Pernikahan”

Silakan Beri Komentar