Mengidentifikasi Diri atau Self-Knowledge

Gara-gara nonton video YouTube kuliah tamu James Chan jadi pengen bikin identifikasi diri. Kalau istilah yang disebut James Chan adalah self-knowledge. Isitilah ini mengacu pada hal yang kita benar-benar pahami (expertise) pada sesuatu. Misalnya, anda adalah seorang pemancing. Anda belum benar-benar mengidentifikasi diri anda jika masih kesulitan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan “ikan apa yang paling anda sukai?”, “kenapa anda menyukai ikan itu?”, “bagaimana cara memancing ikan tersebut sehingga mudah untuk dipancing?”, dan masih banyak pertanyaan detil selanjutnya. Kemampuan anda menjawab berbagai pertanyaan itulah yang dapat menunjukkan dalamnya pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman anda pada suatu bidang. Ketika anda sudah mengerti betul artinya anda sudah memiliki self-knowledge.

Bagaimana dengan saya? I don’t really know yet, but I am trying to figure it out while making this post. Mari dimulai.

Saya itu suka hal yang berbau pemrograman. Saya mengerti dasar-dasar pemrograman. Dulu saya hanya mengerti Visual Basic, HTML, dan PHP tanpa mengetahui makna sesungguhnya guna dasar bahasa pemrograman itu sendiri. Sekarang, meskipun saya bukan orang yang expert dalam pemrograman, saya mampu membuat situs baik menggunakan PHP Framework seperti Laravel, CMS seperti WordPress, maupun secara manual. Saya juga mampu membuat aplikasi Android melalui bahasa pemrograman Java. Saya pun mampu dengan mudah mempelajari bahasa pemrograman lain. Itu semua karena dasar dan konsep pemrogramannya sama.

Saya mempelajari pemrograman dengan cara self-teaching atau otodidak. Ya saya orangnya otodidak. Saya melakukannya atas dasar ketertarikan dan saya tekuni itu. Sekarang saya sadari bahwa otodidak memerlukan pengorbanan yang sangat banyak terutama waktu dan pikiran. Ketika anda melakukan otodidak anda harus menyelesaikan masalah anda sendiri tanpa bisa bertanya pada orang lain, at that time the most I could do was reading a particular book, sekarang anda bisa Googling sana sini dan mengunjungi website dengan begitu cepatnya. Namun, the necessary of trial and error still remains. Iya waktu anda habis di situ, dan saya suka menghabiskan waktu di situ. I made the trade off. Saya habis waktu di situ, tapi saya dapat ilmu yang orang sekitar saya ga punya pada saat itu. Sampai sekarang sih..

Saya suka strategi. Itulah salah satu alasan saya mengambil fokus studi Strategic Management di S2. Saya suka banget tuh permainan strategi seperti Command & Conquer dan Civilization V. Kalau bermain permainan seperti itu saya bisa berpuluh-puluh jam. Untuk mengetahui dan memahami kemampuan masing-masing faction atau kubu diperlukan waktu yang cukup banyak, di situlah seninya. Kekurangan dan kelebihannya bisa kita manage sedemikian rupa untuk memperoleh tujuan.

Sayangnya waktu saya masih kuliah S2 pelajaran fokus studi Strategic Management tidak melibatkan mahasiswa masuk ke dalam real world problem solving dalam bentuk praktek sehingga konsep yang diajarkan masih samar-samar di kepala. Dengan kata lain yang saya rasakan adalah bahwa saya tidak tahu kapan konsep tersebut dapat dipakai untuk menyelesaikan berbagai masalah strategis pada perusahaan. Bagi saya, keampuhan implementasi strategi tidak pernah statis. Artinya, strategi yang sama bisa diterapkan pada sebuah kasus serupa tetapi keampuhannya belum tentu memuaskan. Hal ini disebabkan oleh persoalan perusahaan yang selalu berevolusi sepanjang waktu. Perlu konfigurasi khusus agar strategi berhasil. Nah, konfigurasi itulah yang menurut saya perlu pengalaman dengan cara terjun langsung menyelesaikan kasus. Mungkin menyelesaikan kasus terlalu muluk, tetapi paling tidak kita tahu what to deal with.

Saya suka membaca buku yang berbau filsafat, komunikasi, dan psikologi. Pelajaran yang saya ambil dari bacaan tersebut yaitu pelajaran dalam memahami manusia secara lebih baik. Menyadarkan saya betapa tidak tahunya saya terhadap manusia, terutama manusia di sekeliling saya. Membuat saya aware terhadap hal yang saya bicarakan dan tanggapan orang lain terhadap hal tersebut.

Tags: , , , ,

AUTHOR

# Mulutku seperti brankas. Tidak akan terbuka sampai Anda minta untuk membukanya. Semua orang butuh tempat untuk bercerita. Ceritakan pada saya. Pasti akan mendapatkan balasan dari saya apabila bercerita lewat aprillins at gmail.com. Saya tidak akan menanggapi dengan serius, tapi Anda akan mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Belum ada tanggapan untuk “Mengidentifikasi Diri atau Self-Knowledge”

Silakan Beri Komentar