Wanita: antara Pacar atau Sahabat

Pasti di antara para pembaca pria semua, waktu masa berseragam, ada yang pernah PeDeKaTe sama gebetan dengan berbagai cara dan tipu muslihat hingga “korban” (hehe) tersebut mau menjadi pacar kita. Kalo sekarang diinget-inget lagi ato liat anak-anak berseragam saat ini waktu lagi PDKT, pasti ada yang ketawa-tawa sendiri, mengkritik, atau malu.

Tapi klo saya, malah yang muncul tu pandangan bahwa mereka tidak mendapatkan apa-apa dari usahanya… mengapa begitu? Karena:

  1. Waktu sekolah dulu, saya hanya merasakan pacaran sekali (dan itu benar-benar tidak banyak mempengaruhi hidup saya)
  2. Saya punya banyak banyak teman wanita ketimbang gebetan
  3. Isi kepala saya pada saat itu lebih rumit daripada anak-anak berseragam lainnya yang rata-rata lebih polos dan gak banyak mikir

Tetapi karena itulah saya mampu berpikir “out of box” (kayaknya sih,hehe). Suatu ketika, saya pernah mikir gini :

“klo setiap cowo PDKT itu harus menunjukkan penampilan terbaiknya dan agak sedikit mengambil jarak (entah karena malu, sungkan, atau bahkan yang kePDan sekalipun), lalu apa mereka gak rugi klo ternyata mereka lebih banyak dekat dengan sahabat cowo mereka?”

maksudnya, entah kalian (para pria-pria) sadari atau tidak, pada saat kalian sedang melancarkan rencana-rencana kalian (seperti kencan, bikin puisi atau lagu, ngasih kado, nelfon, dll) kalian tidak dapat mengorek apapun kecuali biodata gebetan kalian saja, kalian gak tau kebiasaan buruknya, perasaan yang lagi mereka alami, hal-hal yang membuat mereka tertarik atau suka, atau sederhananya, watak alamiah mereka. Menurut saya, watak alamiah wanita adalah salah satu daya tarik yang melengkapi jati diri seorang wanita selain fisik dan bentuk tubuh, dan hal itulah yang kadang tidak terlalu dihiraukan oleh para pria. Bagi saya, seorang pria itu harus bisa melihat ke dalam diri seorang wanita, karena dalam suatu usaha “menjadikan seorang wanita sebagai pasangan”, semuanya selalu tentang wanita itu, bukan kalian. Para wanita tidak begitu suka jika kalian memberikan sejuta bunga setiap hari,  tetapi kalian tidak mengetahui bahwa wanita tersebut alergi bunga. Semua selalu tentang wanita tersebut.

Selain itu semua, karena saya pernah menjadi sahabat dari banyak wanita, maka saya mengetahui banyak hal yang tidak semua pria tahu itu. Mulai dari kebiasaan, kesukaan, selera humor, bercanda dengan bebas tanpa menyakiti perasaannya, diajak seru-seruan,  diperhatiin mereka, sampai tau masa lalu mereka. Lalu saya berpikir, klo setiap pria itu selalu memiliki kecenderungan untuk suka sama wanita, namun malah jadi “jaga image” didepan gebetan waktu PDKT;  lalu setelah jadian bisa berani selingkuh, lupa tanggal jadian, marah-marah (malah sampe nampar segala), trus apa tujuan kalian pacaran? Apa yang kalian peroleh dari wanita (selain sesuatu di antara kakinya)?

Dulu pernah ada yang bilang waktu saya sedang dekat sahabat saya, bahwa hubungan kami dah bisa disetarakan dengan pacaran. Pertanyaan lagi : “bedanya pacaran ma sahabatan itu apa yah klo gt?”, rasa sayangnya sama, perhatiannya sama, yang bedain cuma “fisik” aja, jelas saya gak bisa seenaknya nyium ato meluk dia (apalagi yang lebih dari itu), namun dari sana saya beranggapan bahwa sahabatan malah lebih murni daripada pacaran, karena ibarat menutup semua kemungkinan untuk berbuat buruk, yang terlihat adalah hal-hal yang biak dan menyenangkan saja. Bayangkan, ibarat orang yang gak pernah minum alkohol, merokok, dan makan babi ditambah dia vegetarian. Bener-bener yang masuk hanya hal-hal baik (pengecualian bagi yang pernah ngapa-ngapain sama sahabatnya yang sepertinya jarang). Tapi ya karena keterbatasan itu pula, kalian tidak dapat berbuat lebih dari itu, karena sahabatan hanya bagi orang-orang yang tidak memiliki maksud, tujuan, atau mengambil manfaat dari hubungan itu. Saya dah sering mendengar bahwa hubungan pacaran yang dibangun dari sahabatan, tidak pernah bertahan lama, jika ada, pasti sudah banyak yang berubah dan tinggal menghitung waktu (walau ada juga yang berhasil bertahan hingga tua, namun sangat jarang). Selain itu, apa kalian dapat membayangkan suatu saat sahabat kalian akan berpacaran atau bahkan menikah dengan orang lain dan kalian masih terjebak dengan perasaan sayang kalian terhadap sahabat wanita kalian?

Jadi saya sebenarnya tidak menganjurkan kalian para pria, untuk tidak berpacaran dan memilih menjadi sahabat, namun hanya ingin membayangkan kalian bisa membangunkan suasana pacaran yang asik, empatik, dan tulus seperti sebuah hubungan persahabatan. Saya membayangkan sebuah hubungan yang saling mengerti karakter masing-masing, saling membantu saat kesulitan dan membicarakan jalan keluarnya berdua, saling tertawa dan bercanda dengan suasana yang menyenangkan (jika sudah begini, bahkan tidak akan menjadi masalah jika kita menghina dan menghujat mantan pacar kita atau dia sesuka hati). Sebenarnya banyak pria yang tidak menyadari bahwa meremehkan hal yang sepertinya sepele itulah yang membuat hubungan mereka tidak bertahan lama. Menjalin sebuah hubungan seperti pacaran atau pernikahan bukanlah tentang mengatur seorang wanita, namun memahami dan mengerti wanita, entah itu menurut kita buruk atau menyebalkan.

Tags: , , , ,

AUTHOR

# Canggih Gumanky Farunik, lahir di Tangerang tanggal 6 Juni 1987. Menyelesaikan studi S1 di Fakultas Filsafat UGM Agustus 2010, dan sekarang sedang menjalani studi di S2 Fakultas Filsafat UGM sambil mencoba mendalami Epistemologi dan Filsafat Ilmu. Menulis disini atas ajakan mas "Aprillins" sambil menyuarakan kegerahan atas mandulnya intelektualitas bangsa Indonesia ini, sambil mencari solusinya untuk masa depan..... ^_^v

Belum ada tanggapan untuk “Wanita: antara Pacar atau Sahabat”

Silakan Beri Komentar