“Meneropong” Tarot: Seluk Beluk dan Segi Filosofis Tarot

gambar kartu tarotTarot dan astrologi sama logisnya, karena berdasarkan gerakan planet. Bagaimana tidak, jika di University of Wales, Inggris, astrologi termasuk dalam ilmu pengetahuan, bahkan terdapat gelar S-1 dan gelar masternya.

Tarot berasal dari Bahasa Arab, turuq, yang berarti empat jalan. Jadi pada intinya, pembacaan kartu taron bertujuan intik mencarikan jalan menuju kedamaian hidup. Satu set kartu tarot terdiri dari 78 kartu, terbagi menjadi Arkana Utama (22 kartu) dan Arkana Minor (56 kartu). Gambar dalam satu set kartu tarot dangat mungkin berbeda dengan kartu tarot lain. Tapi memiliki kesamaan dalam angka dan elemen (tanah, api, udara, air). Cara meletakkan kartu (tebaran) juga berbeda-beda. Ada tebaran berbentuk celtic cross menggunakan 10 kartu, ada juga dengan komposisi 4,5, atau 12 kartu.

Bangsa Mesir, dahulu, menggunakan tarot sebagai alat untuk meramal, karena simbol-simbol tarot merupakan suatu hubungan bawah sadar antara manusia dan sesuatu yang belum diketahui. Menurut Carl Jung, ahli psikoanalisa, yang menjadi dasar membaca kartu tarot adalah synchronicity. Synchronicity berarti  kebetulan yang berarti, bertemunya energi dari luar dan dari dalam kehidupan manusia. Energi itu teracak di alam semesta, dan kemudian saling bertemu. Menurut ahli psikoanalisa, “kebetulan” tersebut mempengaruhi pergerakan energi yang mengarah pada perubahan. Dengan demikian, sebuah perubahan positif dari aliran energi alam semesta terdorong masuk kedalam kesadaran kita. Peristiwa synchronicity ini muncul ketika sangat dibutuhkan.

Dari pemaparan yang sedikit diatas, tersentak saya mengingat mata kuliah yang saya ambil beberapa semester yang lalu, Kosmologis, yang banyak membahas mengenai konsep dasar keteraturan alam semesta secara luas. Pada kultur Jawa, juga dipercayai konsep Jagad Besar (makrokosmos) dan Jagad Kecil (mikrokosmos). Sedangkan dalam konteks tarot, energi dari dalam diri (berasal dari jagad kecil/ mikrokosmos) dan “kebetulan” berhubungan dengan energi dari luar diri (berasal dari jagad besar/makrokosmos), sehingga pergerakan energi akan mengarah pada perubahan.

Synchronicity sangat berhubungan dengan kepekaan terhadap getar energi alam semesta, bahwa semua benda didunia ini mengirimkan vibrasi dan semua saling terhubung.

Terkadang saya berpikir, mungkin hidup akan lebih mudah jika bergantung pada tarot atau ramalan-ramalan berdasar astrologi. Namun tidak juga, mengapa kita harus menggantungkan proses penemuan kebermaknaan hidup dari kartu tarot. Sesekali bolehlah untuk menyembuhkan luka dan melihat kembali harapan. Be confident and get in touch with world’s energy.

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# kuliah Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Sekarang tinggal di Yogyakarta.

3 tanggapan untuk ““Meneropong” Tarot: Seluk Beluk dan Segi Filosofis Tarot”

  1. February 6th, 2011 at 04:20 | #1

    Tapi saya masih gak percaya dengan hasil ramalan tarot…

  2. March 1st, 2011 at 04:08 | #2

    tarot merupakan alat proyeksi bawah sadar, umumnya menggambarkan apa yang sedang terjadi. konsep “ramalan” dalam tarot bersifat sebab-akibat, yang artinya kecenderungan atau resiko dari masalah dan tindakan pada saat ini. sehingga jika kita mengubah tindakan kita, maka hasilnya pun akan berubah. karena itu tarot sangat dinamis mengikuti “gerakan jiwa” seseorang. itu hanya apa yang saya rasakan selama kurang dari setahun ini mempelajari tarot. :smile: btw i really love the blog. 😛

  3. kedot
    July 18th, 2011 at 22:47 | #3

    salam kenal… mbak nesia lagi nempuh post graduate filsafat di ugm ya?? mbak minta info dan peluang masuknya dong??nanti kalo saya lulus s1 saya tertarik masuk ksana, ini email saya heriw45@gmail.com kalo berkenan kasih info ke email saya ya mbak.. maff ganggu. wassalam

Silakan Beri Komentar